Raisha di hati Reza

Reza smash ff indonesia i-pop

 

  • Title: Raisha di hati Reza
  • Scriptwriter (Author): Dinda
  • Main Cast: Reza (Sm*sh) ; Raisha (OC)
  • Support Cast: Rangga (Sma*sh) ; Ilham (Sm*sh) ; Bisma (Sm*sh) ; Dicky (Sm*sh)
  • Genre: Romance, Sad, School live
  • Duration (Length): twoshoot
  • Rating: G

 

PART 1

“selamat pagi anak-anak. Hari ini kita kedatangan kawan baru. Ayo, perkenalkan diri kamu.” Suara pak kepsek menggema di kelas XI IPA1 pagi itu.

“hay semuanya…” sapa anak baru itu.

“hay…” jawab anak-anak yang lain.

“perkenalkan, nama saya Muhammad Reza Anugrah, kawan-kawan bisa panggil saya Reza. Saya pindahan dari kendari. Salam kenal, semoga teman-teman bisa menerima saya, terima kasih.” Terangnya.

“baik. Reza, kamu duduk di bangku itu, kawan sebangku kamu belum datang. Jadi, kamu tunggu saja sebentar lagi.” Kata pak kepsek, sambil menunjuk bangku baris ke tiga di belakang seorang gadis.

Reza segera beranjak menuju bangku yang dimaksud dan meletakkan tasnya disana. Reza menyapa gadis yang duduk didepannya.

“hay…” katanya, sambil mengulurkan tangan. Tapi gadis itu hanya melirik sekilas, lalu meletakkan buku yang dipegangnya dan pergi. Sombong banget! Batinnya.

Kemudian datanglah seorang cowok berambut gondrong dengan gigi yang dibehel dan gaya yang cuek menghampirinya.

“eh, loe murid baru itu yah?” tanyanya.

“iya, gue Reza.” Reza mengulurkan tangan.

“gue Bisma. Perasaan waktu itu pak kepsek bilang murid barunya kelas satu deh.”

“itu adik gue, namanya Ilham.”

“oh… oh iya, barusan loe ngobrol sama cewek aneh itu yah…?”

“cewek aneh yang mana? Yang baru keluar tadi?”

“ya iyalah, siapa lagi.”

“nggak kok. Tadi gue sapa dia, tapi dia malah pergi. Sombong!”

“hahaha… sabar aja. Dia anaknya emang kayak gitu kok.”

“emang dia siapa sih?”

“namanya Raisha, anak-anak biasa panggil dia Icha. Anaknya pinter, tapi tertutup banget.”

“oh… cantik yah anaknya?!”

“cantik sih, anak-anak nggak ada yang meragukan kecantikannya. Tapi sifat tertutupnya itu lho…”

“kenapa??”

“misterius stadium akut. Ada yang bilang dia kayak gitu karena kesepian, ada juga yang bilang kalo dia…” bisma menyilang-nyulangkan jari telunjuk ke keningnya.

“gila maksud loe?? Parah! Jangan asal ah!”

“ih… gue serius, Tanya deh ama anak-anak yan lain.”

Pembicaraan mereka berhenti sesaat karena pak syamsul, guru kimia yang terkenal killer telah datang.

 

*******

 

Bel pulang sekolah berdering. Reza segera membereskan buku-buku pelajarannya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia melesat pergi, tapi, eh apa itu? Reza melihat sebuah buku berwarna biru dengan renda-renda di sekelilingnya. Milik siapa ini? Pikirnya. Reza membuka buku itu. Dihalaman pertama, tertera sebuah nama “Raisha”. Reza membuka halaman selanjutnya, 3 januari 2011…

Ups, buku diary! Reza menutup buku itu, enggan melanjutkan. Ia kembali membuka-bukanya, berharap gadis itu mencantumkan alamat rumahnya. Ah, ini dia! Ia bergegas melesat pergi.

 

Di pelataran parkir, ia segera mengenakan helmya.

“kak! Kak eca! Tunggu!” Ilham berlari-lari menghampirinya.

“buruan dong! Lelet bener!” kata Reza.

“iya, ini juga udah cepet, jelek!”

“hush! Adik durhaka loe!”

“hehehe… sori kak.” Ilham nyengir.

“buruan naek!” perintah Reza.

Ilham langsung naik menaiki motor dan mengenakan hel yang di berikan kakaknya.

“eh, tapi gue nggak langsung pulang ke rumah nih.” Kata Reza.

“emang mau ngapain dulu?”

“gue mau ke rumah temen dulu, nganterin buku.”

“cowok atau cewek? Emang loe udah tau rumahnya? Kita kan baru seminggu di bandung.”

“aiiisssh… bawel banget sih loe jadi cowok! Mau ikut kaga? Kalo nggak, loe pulang sendiri aja gih!”

“eh… ya udah, gue ikut.”

 

*******

Sudah beberapa lama mereka mengitari wilayah kota bandung. Setelah dua jam lebih, akhirnya mereka menemukan alamat yang dicari.

“kak, cape nih.” Kata ilham, “kita pulang aja yuk..!”

“ikh, gak ah, udah nyampe juga masa pulang gitu aja.”

Reza turun dari motornya, melepas helm, dan melihat-lihat rumah itu.

Rumah yang sederhana bercat putih, dengan tanaman-tanaman yang menghiasi halamannya yang luas. Dari balik pagar, reza dapat melihat isi rumah itu melalui jendela besar yang terdapat di sana.

“assalamualaikum… halo, ada orang nggak???” teriak ilham.

“ilham!!! Astajiiim,, gue punya adik kok bodoh banget.” Reza mencak-mencak dibuatnya.

“waalaikum salam…” seorang cowok keluar dari rumah itu dengan mengenakan kaos hitam dan celana pendek selutut.

“maaf, cari siapa yah?” tanyanya.

“ehm… saya cari Raisha. Bener ini rumahnya?” kata  reza.

“iya, benar. Saya Rangga, kakaknya. Kalian siapa?”

“saya Reza, temen sekelasnya, dan ini Ilham, adik saya, kak…”

“oh… mari masuk.” Ajaknya.

“nggak usah kak, kita cuma sebentar kok. Raishanya ada?”

“aduh, sayang sekali, Raisha sedang tidur sekarang. Ada yang perlu disampaikan?”

“lagi tidur  kak? Ehm… ya udah, saya titip buku ini aja kak, ini punya Raisha, tadi jatuh di kelas” Reza menyodorkan buku yang dipegangnya.

“oh… makasih yah udah mau repot-repot sampe ke sini segala

“sama-sama kak, nggak papa …”

“yakin nggak mau masuk dulu? Kakak bisa bangunin Raisha kalo kalian mau…”

“jangan kak. Kasian dia, biar istirahat aja dulu.”

“ya udah, sekali lagi makasih yah”

“iya kak, assalamualaikum..”

“waalaikum salam…”

Reza tancap gas, kembali ke rumahnya. Hari ini sangat melelahkan baginya. Terlebih, ia juga kasihan melihat ilham yang sedari tadi merengek ingin pulang.

*******

Raisha. Kenapa kenapa nama itu nggak bisa hilang dari otak gue sih? Lo itu sebenernya siapa? Kenapa tatapan dingin itu selalu terbayang-bayang di mata gue? Apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?

Jam menunjukkan pukul 11 malam, tapi Reza tetap tidak bisa memejamkan matanya. Ia malah masih memikirkan Raisha, gadis misterius itu. Tiba-tiba Ilham masuk ke kamarnya dengan membawa serta bantal, guling, dan selimut.

“woy, woy, woy… apa-apaan nih???” Tanya Reza.

“gue tidur disini ah kak.” Jawab Ilham.

“emangnya kamar lu kenapa?”

“kurang cocok sama gue” jawabnya, asal.

“kurang cocok gimana? Bukannya kamar lu lebih luas daripada kamar gue yah?”

“au ah,, pokoknya gue mau tidur disini.”

“eh,, gak boleh.”

“pelit banget sih lu..”

“pokoknya nggak boleh, sana balik ke kamar lu!”

“gak ah, kamar gue sunyi banget…”

“dikh,, kalo gitu mah bilang aja lu takut!”

“bodo!” kata Ilham, sambil merapatkan selimutnya.

“lu kenapa belum tidur kak??” Tanya Ilham.

“nggak bisa tidur gue.”

“tumben bener. Biasanya juga jam 9 udah tidur”

“au ah, gelap. Lu dateng, tiba-tiba gue jadi ngantuk.”

“dasar!!”

“hush, berisik! Gue tidur, night…”

“night…”

*****

“Raisha!” Raisha menoleh, mencari sumber suara yang memanggilnya.

“hay Sha…” sapa Reza, tapi Raisha hanya diam. “kamu udah terima buku yang kemarin?” Tanya Reza.

“udah, makasih yah…” Raisha kemudian pergi meninggalkan Reza yang masih terbengong-bengong.

“udah? Gitu doang???  Alamaaak…” Reza menepuk jidatnya.

*******

“eh bro, gue udah ketemu sama adik loe!” kata Bisma, mengejutkan Reza yang sedang memasukkan bakso ke mulutnya (ya iyalah, masa ke mulut orang lain:)

“uuupss, sori bro.. baju lu kena kuah yah?” Bisma nyengir.

“dikit sih, tapi nggak papa kok. Terus? Adik gue gimana menurut lo?”

“anaknya asik, tapi kok nggak mirip ama lo sih??”

“mana gue tau.. dari pabriknya udah kaya gitu geh.”

“kata Ilham, kemarin lu ke rumahnya si Raisha yah?” pertanyaan yang santai, tapi sukses membuatnya tersedak.

Ember banget sih tuh anak! Reza menggerutu dalam hati.

“iya, kenapa?”

“nggak papa. Lu suka ma dia yah?”

“nggak, enak aja…”

“halah… ngaku aja deh lu.”

“nggak. Apaan sih lu. Lagian kita juga baru ketemu kemarin ini.” Reza menyembunyikan wajahnya yang saat itu berwarna merah, kuning, atau bahkan hijau (pelangi kaleee).

“hey… nyantai aja bro. kalo lu suka juga nggak papa kali.”

“iya, tapi guenya nggak. Udah ah, kelas yuk! 5 menit lagi bel masuk bunyi nih.”

Pandangan matanya berhenti pada satu sosok. Raisha! Ia menyesal mengajak bisma masuk kelas saat itu. Ingin berlama-lama di sana, tapi Bisma menariknya untuk segera pergi.

*******

Bel pulang sekolah berbunyi, tapi Reza tidak segera pulang. Ia ingin megenal lebih jauh seluk beluk sekolah barunya itu. Ia membiarkan Ilham pulang duluan dengan membawa motornya. Iseng ia naik ke lantai atas, tempat yang jarang dikunjungi orang.

Raisha? Sedang apa dia disini?

Reza dapat melihat buku yang dibaca gadis itu adalah twilight. Buku favoritnya juga sih. Raisha belum menyadari kehadirannya hingga ia menyapa, mengejutkan lebih tepatnya.

“suka baca buku yah?” Tanya Reza.

“Reza? Kamu? Kamu ngapain di sini?” Raisha melihat-lihat kemungkinan Reza membawa orang lain ke tempat itu.

“cuma iseng. Pengen cari suasana lain aja. Tenang aja, aku cuma sendirian kok.” Reza menjawab seolah tau apa yang dipikirkan gadis itu.

“syukur deh… aku nggak terlalu suka banyak orang.”

“kamu suka baca buku yah?”

“iya, kamu sendiri?”

“lumayan lah.. novel, komik, manga, aku suka.”

“pernah baca ini?” Raisha menyodorkan buku yang di bacanya.

“twilight. Pernah, dua kali.”

“o yah? Bagian mana yang kamu suka?” Tanya Raisha.

“dialog Bella yang bunyinya gini: ada 3 hal yang aku yakini. Pertama, Edward adalah seorang vampire. Kedua, ada sebagian dari dirinya yang aku tidak tau seberapa dominan yang haus akan darahku. Dan yang ketiga…”

“aku mencintainya. Aku mencintainya melebihi aku mencintai diriku sendiri.” Raisha melanjutkan kalimat Reza. Lantas mereka tersenyum bersama.

 

“aku pernah berharap menjadi seorang Edward Cullen.” Kata reza.

“o yah? Kenapa?”

“aku pikir menyenangkan jadi dirinya. Bisa kau bayangkan, melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Melihat dunia dari sisi yang berbeda. Waw…”

“pasti akan sangat menyenangkan…”

Obrolan mereka masih terus berlanjut hingga beberapa saat lamanya. Reza anak yang menyenangkan ternyata. Begitu pikir Raisha.

 

*******

Pukul 5 sore, Reza dan Raisha baru pulang kerumahnya masing-masing. Rasa bahagia menyelimuti hati keduanya, terutama Reza.

“ECA!!! Dari mana kamu??!” teriak bunda dari pintu dapur.

“eh, bunda…” reza nyengir.

“sini kamu, sini… dari mana kamu hah?” bunda menjewer telinganya.

“adaw… aw, aw… sakit bun, ssshh, bunda, lepasin dong…”

“dari mana kamu? Jam segini baru pulang? Ehm?”

“iya, iya… tapi lepasin dulu, ini…” Akhirnya bunda melepaskan jewerannya.

 

“jelasin sama bunda, dari mana kamu?”

“iya, ntar dulu,  kan sakit telingaku bun…”

“ya udah, sekarang jelasin ke mana aja kamu tadi? ilham udah pulang dari siang, tapi kamu malah baru pulang sore begini…”

“abis pacaran tuh bun…” teriak Ilham, dari balik pintu kamarnya.

“eh, elu tuh! Ikh!” Reza sudah bersiap melempar Ilham dengan sepatunya.

“REZA!! Jawab pertanyaan bunda!”

“iya! Bunda nggak sabaran banget sih? Lama-lama aku lempar sepatu juga deh.”

“apa kamu bilang???”

“nggak kok, nggak… ya udah, eca kasih tau yah, tadi itu aku abis liat-liat sekolah, terus ketemu temen baru, kita ngobrol-ngobrol sampe lupa waktu deh…”

“bener?? Kamu nggak bohong??” bunda bertanya dengan tatapan menyelidik.

“beneran… suerr.. gak bohong kok.” Reza mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya (?).

“ya udah, kamu ganti baju gih, sebentar lagi ayah pulang.”

“siap boss…”

 

*******

“keasyikan nyepi lagi, Cha?” Tanya Rrangga, saat Raisha baru saja akan memasuki kamarnya.

“ehm… iya kak. Kakak nggak kuliah?” Raisha mencoba menutupi rasa gembiranya.

“iya, dosennya ada seminar, jadi kakak pulang cepet.”

“oh…” Raisha ber-o panjang.

“tadi om Wisnu telfon.”

“terus, dia bilang apa?”

“katanya, lusa kamu harus cek up.”

“iya, makasih ya kak…”

“kamu capek yah Cha? Harus bolak-balik rumah sakit kayak gini?” Rangga mengelus pipi adiknya itu.

“kakak, apaan sih? Aku nggak papa kok.”

“maafin kakak yah? Cuma ini yang bisa kakak lakuin untuk kamu.”

“kakak bicara apa? Ini sudah lebih dari cukup. Kehadiran kakak selama ini di sampingku adalah yang paling penting buatku.”

“harusnya kakak bisa…”

Raisha memotong kalimat Rangga. “kak, udah yah? Jangan bahas ini lagi.. Icha capek, mau istirahat dulu…”

“ya sudah, lain kali jangan pulang sore- sore lho…”

Raisha memasuki kamarnya. Ia menangis diam-diam.

***

Pertemuan Reza dan Raisha saat itu tidak memberi pengaruh terhadap hubungan keduanya. Raisha masih saja bersikap dingin kepadanya. Raisha, aku merindukan senyummu, kapan kita bisa menghabiskan waktu bersama lagi? Reza membatin.

Di sela2 jam pelajaran, Reza baru sadar bahwa raisha tidak sekolah hari itu.

“bisma, lu liat raisha gak?” reza menyikut Bisma yang sedang menulis.

“nggak tuh, kenapa?”

“dia nggak sekolah hari ini atau telat yah?”

“nggak tau. Kayaknya nggak sekolah deh, lu liat aja, udah jam berapa sekarang” Bisma melirik jam tangannya.

“waduh, Ray kanapa yah? Apa dia sakit?”

“nggak tau ah Za, lu perhatian bener ama dia”

“nggak ah, biasa aja. Gue kan cuma nanya.”

“udah lah, ngaku aja…”

“ngaku apa?”

“lu suka ama dia kan? Tapi lu masih malu buat ngakuin hal itu.”

“nggak…” Reza acuh.

“halah… ngaku aja deh lu!” Bisma menggoda Reza habis-habisan.

*******

Keesokan harinya, Raisha telah kembali masuk sekolah. Reza sedikit heran melihat penampilan Raisha pagi itu. Dia tampak lebih cerah dari hari kemarin dan… cantik. Kalau hal itu sudah jelas dimata Reza.

“pagi Ray…” sapa Reza. Tapi raisha malah acuh dan melanjutkan langkahnya menuju kelas.

“Ray, kenapa kemarin kamu nggak sekolah?” Tanya Reza.

“emangnya kenapa kalo aku nggak sekolah?”

“yah nggak papa sih, cuma pengen tau aja.”

“aku ada urusan keluarga kemarin.”

“oh… ntar siang ada waktu nggak? Kita jalan yuk?”

“maaf, tapi aku nggak bisa. Dicky!”

Raisha meninggalkan Reza dan menghampiri Dicky. Jujur saja, saat itu Reza merasa sangat cemburu melihatnya. Apa hubungan antara Raisha dengan Dicky yah? Apa mungkin mereka pacaran? Reza menepis semua kmungkinan itu dari otaknya.

………………………………………………………………

TBC

NAH GIMANA?? INI PART 1..

JANGAN LUPA KOMEN YA🙂

2 thoughts on “Raisha di hati Reza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s