Raisha di hati Reza Part 2 END

Reza smash ff indonesia i-pop

  • Title: Raisha di hati Reza
  • Scriptwriter (Author): Dinda
  • Main Cast: Reza (Sm*sh) ; Raisha (OC)
  • Support Cast: Rangga (Sma*sh) ; Ilham (Sm*sh) ; Bisma (Sm*sh) ; Dicky (Sm*sh)
  • Genre: Romance, Sad, School live
  • Duration (Length): twoshoot
  • Rating: G

PART 2 (End):

Hari-hari telah berlalu. Sikap Rraisha pada Reza telah sedikit melunak. Reza memberanikan diri kembali mengajak Raisha. Aku harus mengungkapkan perasaanku padanya! Raisha harus tau perasaanku secepatnya!

“hay Ray…” sapa reza saat jam istirahat.

“hay Za…” balas Raisha.

“ntar siang ada waktu nggak?”

“ehm…” Raisha tampak berpikir sebentar. “ada, kenapa?”

“aku mau ngajak kamu ke suatu tempat, bisa?”

“bisa… mau langsung atau pulang dulu?”

“pulang dulu aja yah? Aku jemput jam 3, gimana?”

“iya… aku tunggu yah…”

Yes! Akhirnya saat yang ku tumggu-tunggu akan segera tiba! Reza tampak sangat gembira, ia sudah tidak sabar menunggu jam 3.

*******

Pukul 3 sore telah tiba. Reza telah menunggu didepan rumah Raisha dengan mengenakan kaos putih serta sweter yang merangkap di tubuhnya. Raisha telah siap dengan mengenakan dress berwarna biru dengan rambut lurusnya yang dibiarkan tergerai tertiup angin dihiasi dengan jepit kupu-kupu.

Untuk sesaat, Reza seperti terhipnotis. Reza, loe mimpi apa tadi malem? Bisa-bisanya lo ketemu bidadari secantik ini… hatinya bergumam.

“Za, kamu kenapa?” Raisha melambaikan tangannya tepat di depan wajah Reza. Hal ini membuatnya salah tingkah.

“eh, ehm… nggak papa. Kita pergi sekarang?”

“ayo, sekarang aja.”

Dengan mengendarai motor, mereka berangkat ke tempat yang dimaksud Reza.

“waw… ini indah sekali, Za.” Raisha kagum melihat tempat itu. Sebuah danau yang dikelilingi pepohonan yang tinggi menjulang.

“kau suka dengan tempat ini?” Tanya Reza.

“tentu saja…”

“kau mau naik perahu bersamaku?” Reza menunjuk perahu yang terletak tidak jauh dari tempat mereka.

“perahu? Kau serius??” Raisha mengharap kesungguhan Reza.

“kenapa tidak? Ayo…”

Mereka berperahu hingga ke tengah danau. Secara mengejutkan, Reza melompat dari perahu yang mengakibatkan perahu itu terbalik. Raisha sangat panik. Ia memeluk tubuh Reza.

“Reza, Reza, Reza…”

“hey, hey… tenang. Danaunya hanya sebatas pinggang kok, kita tidak akan tenggelam.”

“Reza, aku takut…” bukan melepaskan pelukannya, Raisha malah semaki erat memeluk tubuh Reza.

“Sha… tenanglah, jangan panik seperti ini…” Reza mencoba menenangkannya, tapi tubuh Raisha malah menggigil kedinginan.

“sha, kamu nggak papa kan??”

Reza membantu Raisha menaiki perahu lagi kemudian menepi.

Karena gerimis, Reza memutuskan membawa Raisha ke sebuah pondok yang terletak tidak jauh dari danau.

“Sha, kamu nggak papa kan? Maafkan aku yah?” Reza sangat mengkhawatirkan keadaan Raisha.

“nggak papa kok, Za. Aku cuma kedinginan.”

“ehm… Sha, aku mau jujur sama kamu.”

“soal apa…?” kata Raisha, suaranya pelan sekali.

“aku… aku sayang sama kamu Sha. Aku suka kamu sejak kita pertama ketemu.” Reza menunduk.

“lantas…??”

“aku… aku mau jadi pacar kamu. Maaf kalau aku lancang dan merusak hubunganmu dengan Dicky.”

Ah, Reza… kau tidak tau apa-apa tentangku. Kata Raisha, dalam hati. Keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Reza merapatkan duduknya ke samping Raisha. Tangan kanannya mengangkat dagu Raisha. Deg deg deg… jantungnya berdetak sangat kencang. Darahnya berdesir sangat cepat.

Reza… apa yang akan kau lakukan? Suara hati Raisha bertanya-tanya.

Reza sendiri tidak kalah gugup dibanding Raisha. Apa yang terjadi pada Raisha juga terjadi padanya, bahkan mungkin lebih. Dalam hati Reza berkata “aku juga nggak yakin kamu akan siap dengan ini…”

Reza menatap mata Raisha sangat dalam. Ada sesuatu yang indah di sana. Wajah mereka semakin dekat, semakin dekat, dan bibir mereka mulai bersentuhan sedikit demi sedikit. Dalam beberapa detik mereka saling berciuman. Dapat Reza rasakan betapa dinginnya bibir Raisha saat itu, juga tubuhnya yang bergetar karena kedinginan.

“Za, kita tidak seharusnya melakukan ini.” Raisha mendorong tubuh Reza perlahan.

“maaf Sha, aku terbawa suasana.” Reza tampak salah tingkah.

“ehm… iya, nggak papa kok.”

“Rha, bibir kamu dingin…”

“o yah?” gadis itu hanya tersenyum.

“yah… begitulah. Kita pulang sekarang?”

“ayo…”

Reza membantu raisha berdiri. Reza menantarkannya pulang ke rumah.

“hati-hati ya Za, dan… terimakasih untuk yang tadi.” kata Raisha, saat Reza hendak pulang.

“iya, sama-sama. Kamu istirahat yah, daaagh…”

*******

Dirumah, bunda dan Ilham telah menantinya di ruang keluarga.

“assalamualikum…” Reza mengucapkan salam.

“waalaikum salam…” bunda dan Ilham menjawab bersamaan.

“Reza, kenapa kamu basah kuyup begini?” Tanya bunda.

“ujan bun, jadi kayak gini deh…”

“terus Raisha bagaimana?”

Reza tersentak mendengar nama Raisha disebut. Ia melirik Ilham, yang dilirik hanya senyum-senyum. ILHAM!!! Awas kamu!!!

“ceritanya lain kali aja yah? Reza capek, mau mandi, istirahat dulu.” Reza mengelak.

“eh… ntar dulu. Ilham bilang dia cantik yah? Rumahnya dimana?”

“bunda… udah yah bun…” Reza berlari ke kamarnya meninggalkan bunda dengan segala rasa ingin tahunya.

“Reza…!”

****

Sejak kejadian itu, Raisha kembali tidak masuk sekolah. Reza berinisiatif bertanya kepada Dicky.

“Dicky, lu tau nggak Raisha ke mana?” Tanya Reza, saat melihat Dicky melintas di depan kelasnya.

“Raisha? Ehm… anu… aku… aku nggak tau Za.” Dicky menjawab sedikit gugup.

“nggak tau? Masa kamu nggak tau? Kamu kan pacarnya.” Pancing Reza.

“hah?? Pacar?? Woh… jangan ngarang lu!”

“weitss… santai bro… tapi lu deket kan ama dia? Kalo bukan pacar, terus apa dong?”

“gue sepupunya, tau!” jawab Dicky, ketus.

Sepupu? Alhamdulillah… Reza bersyukur dalam hati.

“kalo sepupunya, berarti pasti tau dong Raisha ke mana?!”

“ehm… kita jangan ngomong disini deh. Ikut gue!” Reza mengikuti langkah Dicky menuju taman belakang sekolah.

“lu yakin mau ngomong disini? Disini sepi banget cuy…”

“justru itu, nggak ada orang lain yang boleh tau tentang ini. Duduk!” perintah Dicky. Reza menurut. Ia duduk di bangku panjang yang terletak di taman itu.

“so… Raisha kenapa?”

“Raisha sakit.” Raut muka Dicky serius.

“sakit? Sakit apa? Demam? Pasti karena ujan-ujanan kemarin yah?”

“bukan itu Za, tapi…”

“tapi apa? Dick, lu jangan bikin gue penasaran dong.”

“gue nggak yakin lu akan siap denger ini…”

“kenapa sih? Ada apa?”

“thalessemia.” Jawab dicky. Seketika perasaan Reza menjadi tidak enak. Ia memang belum tau penyakit apa itu, tapi perasaannya mengatakan bahwa itu bukan penyakit sembarangan.

“ntar, dick. Thalessemia itu apa?” Reza bertanya sedikit ragu.

“penyakit kelainan darah dimana penderitanya harus cuci darah dalam kurun waktu tertentu. Ini penyakit keturunan.” Dicky melihat kearah reza, menatapnya dalam.

“tap, tapi… dari siapa dia mendapatkan penyakit itu? Apa kak Rangga juga mengidapnya?”

“dari nyokapnya. Rangga nggak mengidap penyakit itu.”

“kok bisa?? Bukannya lu bilang ini penyakit keturunan?!”

“perlu lo tau Za, Raisha dan Rangga bukan saudara kandung. Raisha itu anak dari sahabatnya orang tua Rangga. Nyokapnya Raisha meninggal sewaktu dia masih berumur 2 tahun karena penyakit yang sama. Selang 3 tahun bokapnya meninggal karena di bunuh sama rival bisnisnya. Karena merasa hutang budi, orangtua Rangga ngadopsi dia dan mengesahkannya sebagai anak mereka.” Terang Dicky, panjang lebar. Gadis yang malang, begitu yang ada dalam benak Reza.

“Raisha… tau tentang ini?” tanpa terasa, air mata Reza mengalir.

“tau, Raisha tau tentang ini. Sejak kecil, Rangga dan orangtuanya nggak pernah menyembunyikan apapun dari Raisha. Rangga sangat menyayanginya seperti adik kandung sendiri.”

“sejak kapan dia mengidap penyakit ini?”

“sejak umurnya 8 tahun. Dan 2 tahun yang lalu dokter memfonis kalau… kesempatan hidupnya nggak akan lama lagi.”

“Dick, lo becanda kan?! Jawab gue, bilang kalo semua ini bohong! Lo cuma ngerjain gue kan?!” Reza tampak sangat histeris.

“setelah gue jelasin semua ini, lo bilang gue becanda? gue udah ngeduga kalo lo nggak bakal percaya. liat mata gue, Za. Liat mata gue! Apa lo liat ada kebohongan di mata gue?!”

“ini semua salah gue… harusnya waktu itu gue nggak bawa dia hujan-hujanan… ini salah gue… Raisha…maafin gue…” reza menangis.

“udahlah, Za… nggak ada gunanya lo ngerasa bersalah kayak gini, mendingan lo jenguk dia ke rumah sakit. Raisha pasti nunggu kedatangan lo.”

*******

“eh… anak bunda kenapa? Pulang-pulang kok mukanya kusut gitu?” Tanya bunda, saat Reza sampai di rumah. Tapi Reza malah cuek dan masuk ke kamarnya yang berada di lantai atas.

“abang kamu kenapa sih?” bunda bertanya kepadaIlham.

“nggak tau, bun. Tadi malah matanya bengkak banget.”

“bengkak? Abangmu nangis?”

Ilham hanya mengangkat bahu dan berlalu ke kamarnya.

Sejak siang tadi, Reza tidak keluar dari kamarnya. Bunda yang khawatir akan keadaan Reza, mencoba mencari tahu. Bunda mendapati ia sedang menangis di atas tempat tidur lengkap dengan seragam sekolah yang ia kenakan sejak pagi tadi.

“Reza… kamu kenapa sayang?” bunda mengelus kepala Reza.

“bunda…” Reza menghambur ke pelukan bundanya. Berharap mendapat ketenangan.

“kamu kenapa sayang? Cerita sama bunda, siapa yang bikin kamu menangis kayak gini…?”

“Raisha, bun… Raisha…”

“Raisha? Kenapa? Dia nolak kamu? Ehm?”

“bukan… ini lebih menyakitkan buat aku daripada di tolak.”

“terus kenapa?”

“dia, dia sakit bun…”

“sakit apa dia sampe kamu jadi seperti ini?”

“sakitnya parah, bun… kesempatan hidupnya nggak aan lama lagi. Reza takut kalo Raisha ninggalin aku secepat ini…” reza menangis.

“husssh… kamu jangan bicara seperti itu, Za. Kamu nggak boleh lemah seperti ini. Kamu harus kuat, supaya Raisha juga kuat.” Bunda terdiam. “sudah jenguk dia?” tanyanya, Reza menggeleng. Bunda tampak berpikir sebentar.

“kamu mau jenguk dia? Kalau kamu mau, bunda bisa bujuk ayah supaya memperbolehkan kamu pergi bawa mobil. Gimana?”

“bunda serius???” Reza berhenti sejenak dari tangisnya.

Bunda mengangguk. “bunda serius, sayang… mumpung ini masih jam setengah 8.”

“iya, bun… aku mau banget.”

“ya sudah, sekarang kamu hapus air mata kamu itu dan siap-siap. Bunda mau bilang ke ayah dulu dan nyuruh Ilham buat nemenin kamu.”

“makasih ya, bun…” bunda tersenyum.

***

Berbekal kendaraan milik ayahnya, Reza dan Ilham bergegas ke rumah sakit tempat Raisha di rawat. Sepanjang perjalanan, pikiran Reza tidak bisa terlepas dari Raisha. Raisha… tunggu aku. Entahlah, Reza merasa sepertinya ini adalah pertemuan terakhir dirinya dengan gadis itu.

“kak, pelan-pelan napa nyetirnya… kayak orang lagi balapan F1 aja. Takut nih…” kata Ilham.

“husssh… bawel lu! Udah, lu diem aja en duduk manis di situ!” perintah Reza.

Sesampainya di rumah sakit, ia segera mencari kamar Raisha. Bougenville no 5, ini dia…

Kreeek… reza membuka pintu kamar itu, sedangkan Ilham menunggunya di luar. Rangga dan orangtuanya menoleh, melihat siapa yang datang. Rangga memberi isyarat untuk meninggalkan Reza dan Raisha hanya berdua.

Reza mendapati gadis yang disayanginyan itu terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya pucat sekali, matanya sayu. Selang infus menggantung di pergelangan tangan kirinya yang menghitam akibat penumpukan zat besi.

Gadis itu tersenyum, Reza membalasnya. Reza menatap matanya dan mengecup keningnya.

“Reza… akhirnya kamu datang juga.” Kata Raisha, suaranya pelan dan nyaris tak terdengar.

“kau menungguku, cantik?” Reza menyentuh tangan Raisha. Dingin.

“iya, aku menunggumu, pengeranku…”

Ada rasa berbunga-bunga dihati Reza saat ia memanggilnya dengan sebutan ‘pangeran’.

“bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya Reza.

“aku baik… kau?”

“seperti yang kau lihat sekarang, aku baik.”

“Dicky sudah menceritakan semuanya padamu?”

“ehm… sudah.” Matanya terasa panas. Ingin menangis.

“Dicky pasti melebih-lebihkannya yah?”

“Rraisha… cukup. Jangan sembunyikan apapun dariku, Sha…”

“kau menangis? Hey… kau ini pria, jangan seperti ini.” Raisha mengusap pipi Reza.

“aku hanya ingin melihatmu sembuh…”

“kau ingin mengabulkan permintaan terakhirku…?”

“Sha, sudahlah…”

“hanya satu…”

“Raisha… jangan katakan yang terakhir…”

“Reza… ayolah, kita harus realistis.”

Reza terdiam.

“baiklah, katakan yang ingin kau pinta dariku”

“katakan bahwa kau mencintaiku, untuk yang terakhir kalinya…”

Sha… jangan katakan ini yang terakhir, aku bahkan masih bisa mengucapkannya padamu berkali-kali lagi di waktu yang akan datang…”

“Reza… katakan yang terakhir kalinya bahwa kau mencintaiku…”

“Rasha…”

“mereka akan menjemputku sebentar lagi…”

“baiklah, baiklah! Dengarkan aku, aku mencintaimu. Aku mencintaimu melebihi aku mencintai diriku sendiri. Kau puas?”

“terima kasih Za, hanya itu yang ingin ku dengar darimu…”

Raisha tersenyum. Genggamannya semakin lama semakin lemah. Mata mereka bertatapan, hingga Reza sadar akan keberadaannya.

“selamat jalan, Raisha… tunggu aku disana…” kata Reza sambil mengusap wajah itu.

*******

Gemerisik dedaunan menemani Reza pagi itu. Dihadapan makam yang masih basah, ia termenung. Nisannya bertuliskan nama ‘Raisha’. Yah, gadis cantik yang baru beberapa bulan ini mengisi hatinya telah pergi untuk selamanya.

“Za…” Dicky menyodorkan sepucuk surat. “dari Raisha, ini amanah, bacalah sekarang. Aku pergi dulu, kuatkan hatimu…” Dicky pergi meninggalkannya sendiri disana.

Dengan perlahan, reza membuka surat itu.

Dear, reza…

Masih ingatkah kamu saat kita pertama jumpa?

Kau mengajakku berkenalan, tapi aku hanya acuh. Saat itu aku berpikir kau hanya laki-laki yang tidak penting dan menganggapku gadis aneh seperti anak-anak yang lain. Tapi ternyata aku salah, kau orang yang sangat menyenangkan. aku belum pernah menemukan orang sepertimu.

Ciuman yang kau berikan saat itu adalah ciuman pertama sekaligus ciuman terakhir yang paling indah buatku. Kau mampu membuatku terbang jauh ke awan.

Ingatkah apa yang kau katakana waktu itu? Kau bilang, kau menyayangiku, Za… ingin kukatakan padamu bahwa perasaanku juga sama. Tapi itu tidak mungkin, aku sadar bahwa waktuku sudah tidak banyak lagi.

Lewat surat ini, aku katakana padamu bahwa aku juga mencintaimu, Za…

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.*

Reza… saat-saat indah bersamamu tak kan pernah aku hilangkan. Walau berat saat ku harus pergi dan meninggalkanmu. Aku akan tetap menjaga hati dan perasaan ini untuk kita.

Reza… ketahuilah, saat kau membaca surat ini, aku akan selalu ada di sisimu, menemanimu membacanya.

Berjanjilah, kau akan melanjutkan hidupmu seperti dulu dengan penuh semangat. Jangan bersedih karena kepergianku.

Ingatlah bahwa aku mencintaimu… aku mencintaimu melebihi aku mencintai diriku sendiri…

Ku tunggu kau pada saatnya nanti…

Raisha.

Reza melipat kembali surat itu. Menciumnya dengan penuh perasaan.

“aku janji, Sha… aku nggak akan lemah. Tunggu aku di sana, Sha… aku akan datang.”

Jujur aku tak kuasa saat terakhir ku genggam tanganmu

Namun yang pasti terjadi kita mungkin tak bersama lagi

Bila nanti esok hari kutemukan dirimu bahagia

Izinkan aku titipkan kisah cinta kita selamanya…

(Krispatih#Demi Cinta)

*dikutip dari aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.

……………………….

END…

AKHIRNYA SELESAI JUGA..

DON’T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s